Beranda Pemerintahan Vename dan Asuransi Nelayan Masih Jadi Andalan

Vename dan Asuransi Nelayan Masih Jadi Andalan

17
0
BERBAGI

Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bekasi Untuk 2018, Siapkan Udang Vaname

Tahtabekasi.com-Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bekasi terus akan meningkatkan pengembangan perikanan budidaya pada komoditas air tawar dan air payau.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan,Ir.H. Wahyudi Asmar kepada Tahtabekasi.com, Rabu (6/12/2017) di ruang kerjannya.

Kenapa Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bekasi pada tahun 2018 memilih memilih Bandeng dan Udang Vename atau Penaeus Vannamei di air payau karena merupakan jenis udang introduksi dari kawasan sub-tropis Amerika, seperti Meksiko dan Panama ini menjadi Peluang usaha agro yang menjanjikan saat ini. Jika dibandingkan dengan udang jenis lainnya, karakteristik vaname sangat khas, yaitu memiliki adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan dengan suhu rendah maupun perubahan sanitasi. Selain itu, laju pertumbuhannya juga relatif cukup cepat, terutama di bulan pertama dan kedua. Apalagi, Kabupaten Bekasi yang pada waktu itu seitar satu bulan yang lalu  telah dicanangkan Presiden Jokowi di Kecamatan Muara Gembong bahwa udang vaname sangat bagus untuk di budidayakan di air payau.

Selain itu, Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bekasi di Komoditas air tawar juga melakukan pemanfaatan lahan sempit dengan budidaya seperti lele, patin, nila, gurame mujaer, emas dan ikan air tawar lainnya. Yang dilaksanakan  di Wilayah Kecamatan Serang Baru, Cikarang Pusat, Cikarang Timur, Cikarang Barat dan Cibitung. Bahkan, pihaknya berencana melakukan pengembangan budidaya bawal darat.

“Kami juga akan melakukan pengembangan budidaya bawal darat, ini baru kita lakukan,” tutur Ir.H. Wahyudi didampingi Kabid Perikanan Budidaya Dwi Mardiana.

Sedangkan di bidang Perikanan Tangkap pihaknya akan terus melanjutkan program unggulan asuransi nelayan berkelanjutan yang anggarannya dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk 4500 nelayan yang berada di Kabupaten Bekasi. Walapun baru 3200 nelayan baru masuk asuransi dan masih 700 nelayan yang telah terdata untuk masuk asuransi.

“Kami berharap asuransi nelayan bisa dianggarkan di APBD sehingga para nelayan bisa lebih mendapatkan jaminan kesehatan dan kematian,” katanya.

Dengan asuransi mandiri nelayan merasa mendapatkan jaminan kesehatan dan kematian baik dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti jasa asuransi indonesia (Jasindo) ataupun yang dari swasta Asuransi Ramayana.

” Program asuransi bagi kami salah satu upaya memberikan santunan untuk para nelayan antisipasi resiko kerja jika terjadi sakit sampai kematian,” bebernya.

Selain itu, kata Kadis Wahyudi. Pihaknya, akan terus melakukan program penggantian jaring para nelayan. Karena jaring yang dimiliki para nelayan yang tadinya tidak ramah lingkungan yang mata di bawah 1 3/4 inci seperti appollo, arad dan cantram diganti menjadi jaring ramah lingkungan seperti jaring gillnet, rawe dan jaring yang menggunakan pancing dengan ukuran 2 inci hingga 5 1/2 inci.

“Kami berupaya bagaimana agar SDA yang kecil, tidak terbawa jaring sehingga habitat akan terus berkembang biak,” katanya.

Pihaknya berharap dengan adanya pendangkalan atau sendimentasi terhadap 10 Muara di Kabupaten Bekasi, di Kecamatan Babelan, Tarumajaya dan Muara Gembong. Seperti Muara tawar, Muara bungin, Muara Jaya, Muara Mati, Muara Pecah, Muara Bendera diperlukan normalisasi yang nantinya bisa memaksimalkan penghasilan para nelayan.

“Kami berharap anggaran normalisasi untuk 10 Muara di Kabupaten Bekasi dengan normalisasi nanti bisa menambah penghasilan para nelayan karena kapal nelayan bisa beraktifitas seluruhnya,” tutupnya.( red)