Beranda Teknologi Pasar Otomotif Lesu, Mitsubishi Tetap Nomor Satu

Pasar Otomotif Lesu, Mitsubishi Tetap Nomor Satu

710
0
BERBAGI

Jababeka- Penjualan kendaraan niaga hingga kini masih mengalami masa-masa
yang berat. terlebih saat ini pertumbuhan ekonomi tahun 2015 masih
lemah dan nilai tukar rupiah yang belum stabil.

Marganda Tobing Deputy
Group Head of Field Group PT Krama Yudha Tiga Berlian (KTB), selaku agen
pemegang merek Mitsubishi mengatakan tidak stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar sangat berpengaruh ke penjualan kendaraan niaga.
“Kalau dari Mitsubishi saat ini memang penjualaan menurun, factor utama dari
tekanan ekonomi sehingga sangat berpengaruh karena ketika angkutan
barang mengurang otomatis permintaan unit berkurang,” kata Marganda di Hotel
Grande Valore, Cikarang.
Marganda menjelaskan untuk kendaraan niaga Mitsusbishi mengalami penurunan
penjualan hingga 10 persen dibanding tahun sebelumnya “Kita mengalami
penurunan 10 persen, pasar nasional malah lebih parah,” katanya.
Namun kata Marganda, ketikan penjualan sedang menurun Mitsubishi
masih mengenggam pasar yang lebih banyak untuk kendaraan niaga. “Penjualan
memang melemah, tapi pangsa pasar Mitsubishi justru naik dengan
perbandingan tahun lalu dan tahun ini,” ungkapnya.
Marganda optimis pada semester kedua tahun ini, penjualan akan semakin naik.
“Ekonomi Indonesia memang tidak sepantasnya melemah, jadi saya yakin
semester kedua akan membaik,” paparnya.
Margana mengingatkan ekonomi Indonesia sangat fluktuasi. “Ekonomi
Indonesia ini sangat susah diprediksi. Saat ini memang sedang turun, namun
bisa jadi pada semester kedua akan meningkat tajam,” ungkapnya.
Jadi kata Marganda, pihaknya tetap optimis untuk menaikan pangsa pasar
Mitsubishi kendati saat ini penjualan sedang mengalami penurunan.

“Kita tidak hanya berbicara satu tahun. Tapi jangka panjang,” paparnya
Sepanjang 2014 lalu penjualan PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB)
selaku agen pemegang merek Mitsubishi di Indonesia mengalami penurunan
dibanding tahun sebelumnya. Namun, merek berlambang tiga berlian ini masih
menggenggam pangsa pasar yang lebih banyak.
Peningkatan pangsa pasar yang dibukukan KTB, terjadi diberbagai kelas
kendaraan penumpang. Walhasil, posisi merek ini di segmen kendaraan
penumpang pun kian menguat.
Melemahnya sektor pertambangan berimbas pada penjualan kendaraan
komersial, khususnya truk besar yang beroperasi di area pertambangan.
Akibatnya sejumlah pabrikan mengalihkan fokus pada penjualan kendaraan
komersial on road, yang beroperasi pada sektor logistik dan
infrastruktur.
Ketua II Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo),
sekaligus President Director PT Isuzu Astra Motor Indonesia Yohanes Nangoi,
mengatakan, tahun lalu merupakan masa yang berat bagi penjualan kendaraan
roda empat besar (truk). Lemahnya sektor pertambangan dan perkebunan saat
ini sangat memengaruhi iklim bisnis. Lesunya dua sektor ini diikuti
kenaikan harga bahan bakar minyak dan pesta demokrasi (Pemilu) sangat
memengaruhi iklim bisnis. Hal ini menurut dia membuat konsumen urung
membeli kendaraan.
“Selain lemahnya pada sektor pertambangan, efek kenaikan harga bahan bakar
itu juga mempengaruhi, ada shock terapi. Tapi yang paling berat adalah
penurunan harga komoditi dan ekonomi secara makro,” ujar Yohannes.
Menurut dia, penurunan harga komoditi berpengaruh besar terhadap kendaraan
komersial yang paling besar dialami oleh heavy duty truck sebesar
20% dan light truck sekitar 10-11%. Tahun ini dengan banyaknya program pembangunan
infrastruktur dan ekonomi diharapkan menjadi pendorong penjualan bagi
Isuzu.  “Tahun ini harusnya membaik dari 2014, tapi baru besok kami akan
bahas dengan anggota Gaikindo,” ujar Yohanes.
Sementara itu, Isuzu yang fokus pada kendaraan komersial menargetkan
penjualan tahun ini bisa mencapai 35.000 unit dan market share 30% di
kendaraan komersial.  Yohanes mengaku cukup senang dengan angka penjualan
Isuzu terutama dengan peningkatan pangsa pasar light truck Isuzu dari 16%
ke 18%. Tahun ini pihaknya akan fokus untuk kendaraan komersial keperluan
konstruksi. Pasalnya, sektor pertambangan masih loyo.
“Saya cukup happy dengan pencapaian Isuzu, karena tahun ini pembangunan
infrastruktur akan pesat. Butuh kendaraan untuk transportasi logistik atau
semen misalnya,” ujar Yohanes.
Tak hanya kendaraan penumpang atau passanger, penjualan kendaaraan
komersil atau niaga juga mengalami penurunan. Berdasarkan data Gabungan
Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan secara retail
sales selama 2014 hanya mencapai 120.305 unit, turun 16,9 persen
dibandingkan 2013.
Kendati demikian, PT Krama Yudha Tiga Berlian (KTB) selaku agen pemegang
merek kendaraan Mitsubishi di Indonesia mengklaim di 2014 pangsa pasar
Mitsubishi mengalami kenaikan dengan menguasai pasar 46,8 persen secara
nasional.
Menurut Rizwan Alamsjah, Executive Marketing Director KTB penurunan sektor
kendaraan komersil di 2014 lantaran banyaknya terjadi berbagai polemik
mulai dari di sektor pertambangan, pemilihan umum, ekonomi global melemah,
penurunan nilai rupiah, hingga kenaikan bahan bakar minyak bersubsidi.

Imbasnya, kata Rizwan, para pebisnis yang menggunakan kendaraan komersil
menunda dan membatasi pembelian kendaraan. pertama kali mitsubishu , permintaan yang utama pangsa pasar, ini pertama kali datang di Cikarang, bagus ini kita harapkan,
kalau di Mitsubishi menurun tekanan ekonomi, sangat berpengaruh angkutan  barang
yang pertama bukan jumlahnya tapi pasngsa pasarnya kita tidak bisa
memastikan, pasar lebih turun pangsa pasar Mitsubishi. (ziz)